Wednesday, 12 March 2014

dampak golden age terhadap ekonomi internasional


Golden Age terjadi sekitar tahun 1896 sampai 1914, sebelum pecahnya perang dunia pertama. Pada masa ini, emas dijadikan sebagai transaksi atau mata uang internasional. Jeffry A. Frieden dalam bukunya yang berjudul Global Capitalism, Its Fall and Rise in the Twentieth Century menjelaskan perkembangan perdagangan internasional  yang dimulai dari masa kejayaan negara-negara Eropa, khususnya negara inggris. Negara inggris merupakan negara yang pertama kali memulai menggunakan sistem standar emas sebagai alat tukar perdagangan internasional.
Tentu saja dengan menggunakan sistem tersebut banyak memunculkan dampak-dampak khususnya dibidang ekonomi internasional. 
dampak pertama, pada akhir abad ke 19 merupakan akhir dari era merkantilisme dan gold standard. Ditahun tersebut timbul pergolakan di hampir seluruh dunia terhadap sistem gold standard dan peran pemerintah yang terlalu besar yang dianggap tidak berpihak terhadap kesejahteraan rakyatnya. 
dampak kedua, akibat menggunakan standar emas saat itu. Pihak yang paling dirugikan dari penggunaan standar emas ini adalah petani dan penambang. Hal ini dikarenakan harga produk tambang dan pertanian paling sulit untuk diprediksikan, sehingga para eksportir barang-barang ini memerlukan devaluasi mata uang untuk meningkatkan jumlah uang yang mereka dapatkan untuk menjual barang-barangnya diluar negeri. Devaluasi mata uang guna melindungi eksportir dari penurunan harga dari produk-produk mereka ini tidak bisa dilakukan apabila menggunakan standar emas. Meskipun, devaluasi mata uang ini juga tidak sepenuhnya baik. Ketika mata uang terdepresiasi, barang-barang asing menjadi lebih mahal. Peningkatan harga-harga ini berdampak pada ekonomi domestik dan akhirnya menjadi inflasi.
Pada akhirnya dunia mempunyai sebuah tatanan perekonomian yang baru dimana free trade, capital movement, dan peran pasar yang lebih besar mengambil alih. Fungsi pemerintah yang cukup besar dalam menentukan nilai tukar dalam sistem gold standard dinilai merusak daya saing dari komoditas-komoditas negara yang tidak memiliki banyak emas,oleh karena itu dengan adanya pasar ekonomi menjadi lebih bebas dan harga di sebuah komoditas ditentukan oleh mekanisme pasar. 
selain itu dengan terjadinya dampak kedua yang timbulkan, negara-negara pengekspor produk dibidang pertanian dan pertambangan kemudian tidak memakai emas sebagai mata uangnya dan sebagai alternatif mereka menggunakan mata uang kertas dan perak.
 itulah dampak yang terjadi serta pemecahan masalah yang diakibatkan menggunakan sistem standar emas pada saat itu.

No comments:

Post a Comment